Menjadi Fashionista Yang Ramah Lingkungan

Rossa Barki | 31 Mar 2021

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan sandang atau pakaian adalah kebutuhan primer setiap orang. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi, pakaian rasanya sudah bukanlah sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Hal ini tercermin jelas dari fenomena menjamurnya toko-toko retail pakaian yang dikenal dengan sebutan fast fashion. In short, fast fashion dapat dikatakan sebagai bisnis pakaian yang fokus pada produksi model terkini dalam jumlah banyak sehingga dapat dijual dengan harga yang sangat murah. Menurut Elizabeth Cline, seorang penulis yang dulunya merupakan fashion addict, mengatakan dalam bukunya yang berjudul Overdressed: The Shockingly High Cost of Cheap Fashion, bahwa keterjangkauan harga telah menyebabkan pergeseran dari nilai guna pakaian, dimana saat ini pakaian lebih berperan sebagai identitas sosial. Didorong dengan adanya sosial media yang memudahkan masyarakat umum untuk ‘tampil’ seperti instagram, mayoritas orang kerap berlomba untuk selalu tampil fashionable dengan terus up to date dengan tren fashion terbaru. Akan tetapi, perkembangan industri fashion serta perubahan perilaku masyarakat yang semakin konsumtif terhadap produk fashion ini ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan. 


Apa dampak buruk yang dihasilkan oleh tren fashion saat ini?


Di balik tampilan fancy dari toko-toko retail pakaian seperti H&M, dll, tersimpan kenyataan pahit bahwa industri ini merupakan polutan terbesar kedua di dunia (United Nations, 2019). Laporan dari McKinsey menyatakan jumlah produk garmen yang dihasilkan setiap tahun telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000. Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya, angka produksi tersebut melebihi 100 milyar produk. Menyertai angka produksi tersebut, sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan dari industri fashion. Setiap detiknya, limbah tekstil sebanyak satu truk sampah masuk ke tempat pembuangan akhir dan dibakar setiap tahunnya. (Fashion Revolution, 2020).


Tidak selesai sampai disitu, jumlah limbah yang sudah banyak ini diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah konsumsi masyarakat terhadap produk fashion. Sebagai contoh, parlemen Inggris menyatakan bahwa pada tahun 2030, konsumsi produk fashion diproyeksi meningkat sebesar 63%, dari sekitar 62 juta ton menjadi 102 juta ton. Peningkatan konsumsi tentunya menuntut peningkatan produksi yang berujung pada peningkatan limbah tekstil itu sendiri. Limbah tekstil ini turut diestimasi meningkat sebesar  60% antara tahun 2015 dan 2030, dengan tambahan 57 juta ton dihasilkan setiap tahunnya, mencapai angka 148 juta ton tekstil per tahun. Jika permasalahan limbah tekstil ini dibiarkan, tentunya kerusakan yang ditimbulkan pada lingkungan akan semakin parah.


Untuk membenahi masalah limbah tekstil ini secara totalitas, tentunya diperlukan upaya yang dituntut dari berbagai pihak, seperti perusahaan produk fashion (khususnya perusahaan fast fashion), regulator, konsumen, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam siklus produksi dan konsumsi produk fashion. Upaya dari pihak produsen dan regulator tentunya membutuhkan perencanaan yang lebih komprehensif dengan analisis yang mendalam, tetapi pergeseran tren fashion ke arah yang lebih ramah lingkungan ini tetap dapat dimulai secara cepat dan masif dengan memulainya dari sisi konsumen.


Lalu, apa aja sih yang bisa kita lakukan sebagai konsumen agar selalu fashionable tapi tetap ramah lingkungan?


Sebagai konsumen, kita sangat bisa untuk memulai pergeseran fashion ke arah yang lebih ramah lingkungan. Walaupun upaya yang kita lakukan terbilang skala kecil, tapi bayangkan jika puluhan juta konsumen melakukan upaya yang sama untuk mengubah perilaku konsumsi produk fashion, tentu gerakan ini dapat menjadi aksi yang revolusioner! 


Dalam rangka mengurangi jumlah limbah tekstil yang dihasilkan, dibuang, dan dibakar setiap tahunnya, kita sebagai konsumen perlu mengurangi tingkat konsumsi produk fashion. Hal ini dapat dilakukan dengan menahan diri agar tidak terlalu terlalu terpengaruh oleh tren terbaru sehingga tidak selalu membeli pakaian baru. Jika jumlah permintaan pasar terhadap pakaian baru menurun, tentu perusahaan-perusahaan produsen fashion, khususnya ritel fast fashion, akan terpaksa untuk mengurangi jumlah produksinya. Kondisi ini yang diharapkan akan berakhir pada pengurangan limbah tekstil untuk jangka panjang. Akan tetapi, tentu keinginan untuk tampil beda dan tetap fashionable akan selalu ada pada setiap orang. Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah perilaku konsumsi kita pada produk fashion sehingga dapat berkontribusi mengurangi limbah tekstil


1. Bertukar baju!


Kamu bisa punya variasi baju yang banyak tanpa harus membeli pakaian yang baru setiap saat dengan barter baju! Coba deh, ajak kakak/adik, saudara, atau teman-teman kamu untuk bertukar pakaian yang kalian punya. Jika kamu merasa pakaian saudara atau teman kamu masih kurang bervariasi, kamu bisa bertukar baju melalui salah satu gerakan di Indonesia yang mengkampanyekan ide ini, yaitu @tukarbaju_ di Instagram. Kegiatan tukar baju ini sudah beberapa kali dilaksanakan di Jakarta, Bandung, Jogja, dan sebagainya. Dengan bertukar baju, banyak sekali manfaat yang kamu dapatkan. Selain mendapat baju model baru, ramah untuk lingkungan dan ramah juga untuk dompet! Menarik banget kan?



Sumber: Instagram @tukarbaju_


2. Memberdayakan baju warisan


Opsi kedua ini juga masih ramah untuk lingkungan dan dompet kamu nih. Kalau kamu kehabisan gaya dengan pakaian kamu saat ini, coba cek kumpulan pakaian kakak kamu atau punya orang tua kamu pas mereka masih muda. Pakaian-pakaian jaman dulu punya orang tua kamu mungkin saat ini punya kesan vintage dan malah tidak banyak di pasaran, jadi kamu bisa benar-benar tampil beda daripada yang lain! Apalagi kalau kamu fashion addict, pastinya kamu akan jago untuk mix and match. Jadi, coba luangkan waktu untuk mengulik lemari ayah atau ibu kamu untuk dapat stok untuk mix and match yang lebih banyak!


3. Membeli pakaian bekas


Nah, kalau ini sepertinya sudah tidak asing ya. Membeli pakaian bekas atau thrift shopping akhir-akhir ini sudah mulai marak di Indonesia. Dulu, mungkin tempat membeli baju bekas ini hanya ada di pasar-pasar yang harus dibeli secara langsung ke tempatnya. Akan tetapi, sekarang sudah banyak sekali online shop yang menjual pakaian-pakaian bekas. Tak hanya itu, pakaian-pakaian bekas yang dijualnya pun modelnya keren-keren! Sebagai referensi kamu, ada organisasi nirlaba bernama ‘Sadari Sedari’ yang menjual pakaian-pakaian bekas sekaligus mendonasikan hasil penjualannya untuk membiayai pendidikan anak-anak di Indonesia, kamu bisa lihat instagramnya di @sadarisedari. Jika kamu membeli pakaian bekas, kamu turut andil dalam mengurangi jumlah permintaan pasar sehingga akan mendorong perusahaan produsen fashion untuk mengurangi jumlah produksi. Dengan begitu, jumlah sampah fashion dan limbah tekstil yang masuk ke tempat pembuangan akhir akan ikut berkurang.



Sumber: Instagram @sadarisedari


4. Membeli pakaian hasil upcycle


Selain membeli baju bekas, kamu juga dapat membeli pakaian hasil upcycle. Upcycle adalah proses mengolah sampah atau barang-barang yang telah tidak terpakai menjadi sebuah produk baru yang memiliki nilai lagi. Dalam konteks fashion, pakaian hasil upcycle umumnya merupakan pakaian yang memanfaatkan kain-kain sisa produksi yang tidak terpakai dan biasanya dibuang begitu saja. Selain itu, pakaian hasil upcycle bisa juga berupa pakaian yang dijahit sedemikian rupa sehingga menjadi pakaian dengan model baru yang berbeda dari sebelumnya. Foto di bawah ini adalah contoh dari pakaian hasil upcycle.



Sumber: trashcouture.com



Sumber: Instagram @setali.indonesia


Di Indonesia, sudah ada beberapa inisiatif yang menjual pakain hasil upcycle, salah satu contohnya adalah @kekno_klambimu di Instagram. 



Sumber: Instagram @kekno_klambimu


5. Membeli pakaian yang terbuat dari bahan organik & dengan desain yang timeless


Jika kamu sudah melakukan keempat opsi diatas, opsi kelima ini dapat menjadi senjata terakhir kamu untuk turut berkontribusi menggeser tren fashion ke arah yang lebih ramah lingkungan. Kamu bisa membeli pakaian yang terbuang dari bahan organik dan memiliki desain yang timeless. Saat ini, mulai banyak brand yang menekankan material organik sebagai nilai jual utamanya, seiring dengan mudahnya mendapatkan material tersebut dari supplier kain. Salah satu contoh bahan organik yang mulai marak digunakan adalah kain tencel. Walaupun jika dilihat dari angka konsumsi, opsi ini kurang mempromosikan pengurangan tingkat konsumsi pakaian baru, setidaknya pakaian dengan bahan organik bersifat compostable dan biodegradable. Dengan adanya dua sifat ini, serat-serat dari kain organik tidak akan melepaskan sampah mikroplastik seperti kain polyester. Selain terbuat dari bahan organik, kamu sebaiknya membeli pakaian dengan desain yang timeless. Yang dimaksud dengan desain timeless adalah desain pakaian cocok untuk digunakan pada berbagai acara, mudah di mix and match dengan pakaian yang lain, dan modelnya dapat bertahan sampai bertahun-tahun. Dengan begitu, kamu tidak perlu sering berbelanja pakaian yang baru setiap musim.


Nah, kelima poin di atas adalah opsi yang bisa kamu lakukan sebagai konsumen untuk mengurangi tingkat konsumsi produk fashion. Dengan menjadi konsumen yang lebih bijak, perusahaan produsen fashion pun akan dituntut untuk menyesuaikan dengan perilaku pasar, sehingga akan menurunkan jumlah produksi dan mulai mengadopsi model bisnis yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan organik dan proses produksi yang lebih sustainable. Dengan begitu, jumlah sampah fashion dan limbah tekstil pun diharapkan akan berkurang secara signifikan dan tren fashion ke depannya akan terus bergerak menjadi lebih ramah lingkungan!

Judul Informasi : Menjadi Fashionista Yang Ramah Lingkungan
Penulis : -
Kategori : Blog
Tahun Penerbit : -
Sumber Referensi : -
Fokus Isu : Strategi Pengurangan Sampah
Materi terkait
Laporan
Moh. Firdaus | 03 Dec 2021
Lets Do It World Annual Report 2020
Jurnal
Michelle Christina Tenjaya | 03 Dec 2021
Biodegradasi Limbah Minyak Berat Me ...
Panduan
Yunita Karangan | 03 Dec 2021
Green Washing
Blog
Difa Salsabila | 01 Dec 2021
Dari Sepatu Hingga Krayon, Ini Dia ...
Jurnal
Nadhifa A Zahira | 03 Dec 2021
Waste Management in New Zealand
Blog
Andini Trisnaning Tias | 29 Nov 2021
Ubah Sampah Menjadi Sedekah
Jurnal
Anisa Dinasty Oktafia | 03 Dec 2021
Perencanaan Sistem Pengurangan Samp ...
;