Solusi Cantik Dengan Tetap Peduli Lingkungan

Rizka Ananda | 18 Mar 2021

Beberapa tahun belakangan ini, industri kecantikan dan skincare semakin berkembang pesat. Hari ini mungkin baru saja membeli toner dengan kandungan tea tree, besoknya sudah ada toner dengan kandungan terbaru, misalnya centella asiatica. Meskipun berbagai varian dan produk yang muncul membuat kita bingung, setidaknya kita punya banyak pilihan untuk merawat wajah dan tubuh. Sayangnya, seiring dengan bertambahnya jumlah produk makeup, skincare, dan perawatan lainnya, semakin banyak pula kemasan yang terbuang dengan sia-sia. Hal ini tentu saja berdampak pada lingkungan.


Industri kecantikan merupakan salah satu industri penyumbang sampah plastik dan material pencemaran lingkungan terbesar di dunia. Lebih dari 12 juta ton sampah plastik mengalir ke laut lepas setiap tahunnya (Louisa Casson, 2017) dan semenjak tahun 2010, Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah plastik terbanyak di dunia setelah Republik Rakyat Cina (Jenna R Jambeck, 2015). Selama ini masyarakat kebanyakan menyalahkan industri pangan untuk masalah limbah plastik. Produk makanan menghasilkan limbah seperti pembungkus makanan ringan, botol minuman, maupun bungkus mie instan yang sering kita konsumsi setiap hari. Namun, kita terkadang melupakan satu aspek dalam kehidupan kita sehari-hari. Sama seperti kemasan minuman dan makanan, botol atau packaging skincare dan makeup juga sulit untuk didaur ulang.


Upaya-upaya Pengurangan Limbah Plastik dari Industri Kecantikan

Sejak pertama kali ditemukan oleh Jhon Wesley Hyatt sejak 24 Juli 1868, plastik kini menjadi bagian terpenting dalam peradaban modern. Selain murah, plastik dianggap sebagai komponen yang tahan lama. Saking bergantungnya manusia terhadap plastik di era kiwari, tahun 2050, World Economic Forum (WEF) memprediksi produksi plastik di dunia akan mencapai 1.124 juta ton (World Economic Forum, 2016). Jumlah ini naik hampir empat kali lipat dari 2014 sebanyak 311 juta ton. Jika rasio perbandingan bobot sampah plastik dengan ikan di tahun 2014 adalah 1:4 (1 ton sampah berbanding 4 ton ikan), maka bobot sampah plastik di tahun 2050 akan mencapai angka yang setara, yakni 1:1, bahkan mungkin lebih banyak bobot pada plastik (tirto.id, 2019).


Menanggapi kasus penambahan limbah plastik dari industri kecantikan ini, perusahaan sosial yang bergerak dalam misi memberikan layanan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, Waste4change, mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah skincare terutama kemasan bekas pakai sepeti botol plastik dan botol kaca untuk didaur ulang.


Adapun ajakan tersebut diunggah oleh akun resmi Instagram Waste4change, @waste4change pada hari Selasa, 26 Mei 2020.

Sumber: https://www.instagram.com/waste4change/


Dalam unggahan tersebut, pihak Waste4change menawarkan diri untuk mengolah sampah-sampah skincare yang sudah tidak terpakai dan dalam keadaan kering. Hal ini dilakukan guna mencegah penumpukan sampah dan mencegah peredaran skincare palsu dengan menggunakan kemasan atau wadah asli. Head of Communication & Engagement Waste4change, Hana Nur Auliana mengungkapkan, setelah masyarakat telah memastikan sampah skincare mereka sudah bersih dan kering, mereka dapat mengemas sampah tersebut untuk dikirimkan ke Waste4Change melalui berbagai program. Salah satu program yang bisa diikuti adalah Send Your Waste dengan mengisi formulir link disini.


Selain layanan yang diberikan oleh Waste4Change, kita juga bisa mengirimkan sampah skincare ke bank sampah atau dropbox sampah. Salah satunya adalah ke Dropbox Sampah Kemasan, yang merupakan bagian dari program kolaborasi dari PT Hero Supermarket, Tbk (HERO Group), Nutrifood, dan Garnier. Program kolaborasi Sampah Kemasan ini merupakan salah satu dukungan sektor swasta terhadap PP. RI No 97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstranas).


Sumber: Dokumen Nutrifood Indonesia


Jenis sampah yang dikumpulkan pada Dropbox Sampah Kemasan adalah valuable inorganic waste yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni kategori sampah kemasan kertas seperti dupleks, kotak minuman, cup kertas, dus kosmetik dan sebagainya; kategori sampah kemasan plastik seperti botol plastik, gelas plastik, tube plastik, sachet atau bungkus plastik; serta kategori sampah kemasan kaca seperti botol kaca, toples kaca dan sebagainya. Kita bisa memasukkan sisa sampah skincare yang sudah dipisahkan ke beberapa tempat Dropbox Sampah Kemasan yang telah tersedia.


Brand Kecantikan yang Melakukan Daur Ulang Kemasan

Selain mengirimkan sampah skincare ke perusahaan-perusahaan yang menawarkan layanan pengumpulan sampah untuk diolah, terdapat beberapa brand kecantikan sukses menjadikan isu ini sebagai kampanye peduli lingkungan sekaligus menguatkan brandawareness-nya melalui program daur ulang. Mereka akan memberi reward bagi para pelanggan yang mengembalikan botol dan kemasan tersebut untuk didaur ulang. Berikut beberapa brand yang peduli akan lingkungan dengan menerapkan proses daur ulang kemasan :


  1. The Body Shop

Tentu semua sudah tidak asing dengan brand ini, dengan gerainya yang sudah tersebar di seluruh penjuru Indonesia, The Body Shop memiliki kampanye daur ulang yang bernama “Bring Back Our Bottles”. Program ini bertujuan untuk mengajak para konsumen mengembalikan kemasan kosong The Body Shop ke gerai terdekat untuk didaur ulang. Hasil daur ulang dari botol bekas ini nantinya akan diolah kembali menjadi sapu, ember, dan produk rumah tangga lainnya. Selain membantu menyelematkan lingkungan, konsumen juga bisa menambah point reward dari The Body Shop.

Sumber: https://www.thebodyshop.co.id/stories/bring-back-our-bottle


  1. Lush

Lush merupakan salah satu brand yang sangat peduli akan lingkungan. Brand inipun menggunakan bahan-bahan organik sebagai material utamanya dalam membuat produknya. Lush juga identik dengan produk yang dijual tanpa adanya kemasan sehingga Lush pun mengusung “5 Pot Program”, yaitu program daur ulang dan memberikan reward bagi para konsumen yang mengembalikan 5 pot Lush. Reward yang akan didapatkan yaitu Fresh Face Mask gratis untuk setiap 5 pot Lush kosong dan sudah dibersihkan.

Sumber: https://www.instagram.com/lushcosmetics/


  1. Innisfree

Pencinta negeri ginseng pasti tahu brand yang satu ini. Tak mau kalah dengan brand lainnya, Innisfree juga memiliki program daur ulangnya sendiri yang diberi nama “Empty Bottle Recycling”. Program ini mengajak konsumen untuk mengembalikan wadah dan botol kosong ke gerai terdekat, dan akan mendapatkan 100 point. Namun, program ini tidak berlaku terhadap kemasan makeup dan produk yang dikemas dengan packaging berbahan kaleng.

Sumber: https://www.innisfree.com/id/en/////BrandPage.do?pageName=brand_recycling


  1. Sensatia Botanicals

Brand ini merupakan brand lokal dari Bali yang sudah lama dikenal sebagai brand yang mengusung konsep dan bahan alami di setiap produknya. Sensatia Botanicals juga punya program daur ulang. Sistemnya mudah, cukup mengembalikan satu botol kosong ke gerai Sensatia Botanicals. Untuk setiap wadah yang dikumpulkan, akan mendapatkan 1 stiker. Stiker ini dikumpulkan hingga berjumlah 12 untuk mendapatkan voucher senilai Rp100.000.

Sumber: https://www.instagram.com/sensatiabotanicals/


  1. Kiehl’s

Brand yang sudah berusia 164 tahun ini juga menawarkan program daur ulang kemasan loh. Untuk setiap satu kemasan full-size yang sudah kosong dapat ditukarkan dengan satu buah cap. Jika sudah terkumpul hingga 10, konsumen berhak menukarkannya dengan sebuah produk berukuran travel size.

Sumber: https://www.kiehls.co.id/en/recycle-and-be-rewarded


  1. eos

Bersama-sama dengan TerraCycle dalam menyelenggarakan program daur ulang kemasan, konsumen bisa mendapatkan TerraCycle points yang bisa ditukar menjadi donasi terhadap sekolah atau organisasi nonprofit loh.

Sumber: https://evolutionofsmooth.com/pages/terracycle

Judul Informasi : Solusi Cantik Dengan Tetap Peduli Lingkungan
Penulis : -
Kategori : Blog
Tahun Penerbit : -
Sumber Referensi : -
Fokus Isu : Strategi Pengurangan Sampah
Materi terkait
Laporan
Moh. Firdaus | 03 Dec 2021
Lets Do It World Annual Report 2020
Jurnal
Michelle Christina Tenjaya | 03 Dec 2021
Biodegradasi Limbah Minyak Berat Me ...
Panduan
Yunita Karangan | 03 Dec 2021
Green Washing
Blog
Difa Salsabila | 01 Dec 2021
Dari Sepatu Hingga Krayon, Ini Dia ...
Jurnal
Nadhifa A Zahira | 03 Dec 2021
Waste Management in New Zealand
Blog
Andini Trisnaning Tias | 29 Nov 2021
Ubah Sampah Menjadi Sedekah
Jurnal
Anisa Dinasty Oktafia | 03 Dec 2021
Perencanaan Sistem Pengurangan Samp ...
;