WRAP-ART THERAPY SEBAGAI STRATEGI COPING STRESS DENGAN MEMANFAATKAN SAMPAH BUBBLE WRAP

Mela Faryhunnisa | 13 Dec 2021

Pandemi COVID-19 telah memasuki tahun keduanya di Indonesia, sejak itulah banyak kegiatan yang dialihkan menjadi daring. Demi memutus rantai penyebaran virus corona, kegiatan berkerumun harus dikurangi semaksimal mungkin. Hal itulah yang terjadi pula pada kegiatan transaksi dalam berbelanja, kita beralih dari belanja secara konvensional menjadi online. Ekhel Chandra Wijaya selaku External Communications Senior Lead di Tokopedia mencatat bahwa pada triwulan III, tingkat penjualan pada kategori makanan dan minuman meningkat hampir tiga kali lipat dari biasanya, sementara pada kategori rumah tangga juga meningkat dua kali lipat (Huda, 2020). Dilansir dari Merdeka.com, nilai transaksi e-commerce pada kuartal I dan II 2021 meningkat 63,36 persen menjadi Rp186,75 triliun. Bahkan transaksi belanja online digambarkan meningkat 48,4 persen mencapai Rp395 triliun untuk keseluruhan 2021 (Situmorang, 2021).

Ternyata, meningkatnya aktivitas belanja online menyebabkan masalah lain yang tak kalah penting, yaitu meningkatnya jumlah sampah bubble wrap bekas pengemasan produk. Dilansir dari Kompas.com, selama pandemi COVID-19 sampah plastik khususnya bubble wrap mendominasi sungai sebanyak 6.300 ton pada periode 1 sampai 15 Maret 2020 lalu meningkat menjadi 9.300 ton pada periode 10 April sampai 4 Juni 2020 (Nursastri, 2020). Tentu jumlah ini akan semakin meningkat seiring peningkatan intensitas berbelanja online.

Selain permasalahan lingkungan, pandemi juga menyebabkan peningkatan stres selama di rumah. Baik urusan pendidikan maupun pekerjaan, semua dilakukan secara WFH (work from home), kita menjadi terbatas untuk berinteraksi dengan orang lain serta sekedar jalan-jalan menghilangkan penat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Husky et al (2020) menunjukkan bahwa dari 291 sampel mahasiswa yang diambil, 60,2% di antaranya mengalami peningkatan kecemasan sejak awal pandemi, 61,6% sampel mengalami stres sedang hingga berat, dan 26,8% mengalami stres karena masalah finansial. Penelitian lain yang dilakukan oleh Cao et al (2020) menghasilkan kesimpulan bahwa dari 7.143 sampel yang dipilih, 24,9% di antaranya pernah mengalami kecemasan ringan hingga berat selama masa pandemi.

Berdasarkan dua permasalahan di atas, penulis ingin turut berkontribusi serta mengajak masyarakat untuk dapat memanfaatkan sampah bubble wrap di rumahnya untuk mengurangi stres selama pandemi. Penulis menyebutnya sebagai Wrap-Art Therapy, yaitu terapi mandiri psikologis berbasis seni dengan menggunakan bubble wrap sebagai medianya.

Caranya cukup sederhana, kita hanya perlu menyiapkan sampah bubble wrap bening, cat minyak, kuas, dan alat pendukung lainnya. Kita dapat melukis apapun sekreatif kita. Melukis sebagai terapi psikologi sudah diterapkan sejak lama, art therapy (terapi seni) digunakan sebagai media untuk menuangkan emosi, kepribadian, dan aspek-aspek psikologis lain yang ada pada konseli. Terapi seni yang umumnya digunakan yaitu melukis menggunakan media kanvas maupun kertas, serta beberapa media kreatif lain seperti pasir dan tanah liat. Namun kita juga dapat melakukan terapi mandiri dengan media bubble wrap sebagai strategi coping stress, coping stress sendiri ialah proses pemulihan kembali dari stres yang dialami sebelumnya berupa perasaan tertekan dan tidak nyaman (Hawari, dalam Andriyani, 2014).

Sebelum memulai kegiatan melukis, ada baiknya kita mengidentifikasi terlebih dahulu emosi yang kita rasakan, entah itu sedih, marah, kecewa, kesal, dan emosi negatif lainnya. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan emoticon di smartphone masing-masing. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui lebih jelas perbedaan sebelum dan sesudah melukis di bubble wrap. Setelah selesai melukis, jangan lupa untuk mengidentifikasi kembali perasaan kita. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

                                           

   Gambar 1. Contoh Identifikasi Emosi dengan Emoticon

Tentu saja metode Wrap-Art Therapy tidak akan berjalan maksimal jika tidak diluaskan lebih lanjut, oleh karena itu penulis sudah menyiapkan beberapa cara untuk memperkenalkan metode tersebut ke khalayak umum. Pertama, membuat konten-konten melukis di atas bubble wrap dan mengunggahnya ke Youtube, Instagram, dan Facebook. Kedua, turut mengajak influencer untuk melakukan Wrap-Art Therapy. Hal tersebut dilakukan guna membangun minat masyarakat, terutama yang sedang mengalami penurunan kondisi psikologis selama di rumah saja. Ketiga, bekerja sama dengan biro konseling psikologis untuk turut menggunakan Wrap-Art Therapy sesuai kebutuhan klien.

Wrap-Art Therapy berusaha untuk mengatasi dua masalah yang timbul di masa pandemi sekaligus. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekali kita melukis di atas bubble wrap, kita sudah berusaha mencintai diri sendiri dengan melakukan kegiatan yang bersifat healing serta berkontribusi mengurangi sampah plastik yang sampai saat ini tidak pernah terselesaikan. Mulai sekarang, jangan langsung membuang sampah bubble wrap bekas belanja online ya!

Daftar Pustaka

 

Andriyani, J. (2014). COPING STRESS PADA WANITA KARIER YANG BERKELUARGA. Al-Bayan, 21(30), 1-10.

 Nursastri, S. A., 2020, Kompas.com, 'Studi: Jumlah Sampah Plastik Meningkat Sepanjang WFH dan PSBB'. diakses melalui https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/28/170200123/studi--jumlah-sampah-plastik-meningkat-sepanjang-wfh-dan-psbb

Martono, 2014, 'PEMBELAJARAN SENI LUKIS ANAK BERDASARKAN PENGALAMAN LOMBA', Cakrawala Pendidikan(1), hh. 92-102.

Putra, H. P., & Yuriandala, Y., 2010, 'Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif',  Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan, 2(1), hh. 21-31.

Septiani, B. A., Arianie, D. M., Risman, V. F., Handayani, W., & Kawuryan, I. S., 2019, 'Pengelolaan Sampah Plastik di Salatiga: Praktik dan Tantangan', JURNAL ILMU LINGKUNGAN, 17(1), hh. 90-99.

Judul Informasi : WRAP-ART THERAPY SEBAGAI STRATEGI COPING STRESS DENGAN MEMANFAATKAN SAMPAH BUBBLE WRAP
Penulis : -
Kategori : Blog
Tahun Penerbit : -
Sumber Referensi : -
Fokus Isu : Gerakan & Kampanye
Materi terkait
Jurnal
Dea Karina | 16 Jan 2022
SUSTAINABLE BEAUTY: KESIAPAN KONSUM ...
Video
Dani Yasser | 24 Dec 2021
36 Tips memulai Gaya Hidup Berkelan ...
Blog
Muhammad Arshal | 23 Dec 2021
Penggunaan kantong plastik di kota ...
Video
Priyanka | 23 Dec 2021
Cara Mengompos Sisa Makanan di Ruma ...
Jurnal
Priyanka | 23 Dec 2021
Solid Waste Management in Small Tou ...
Jurnal
Dita Silviani | 23 Dec 2021
Pemanfaatan Bank Sampah Sebagai Upa ...
Jurnal
Anggita Aisyah Ardelia | 23 Dec 2021
Pengelolaan Sampah di Masa pandemi
;