Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif

Anissa Aprilia | 24 May 2021


Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
22
dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos, briket

serta biogas, tetapi sampah anorganik masih
sangat minim pengelolaannya. Sampah anorganik sangat sulit didegradasi bahkan tidak dapat
didegradasi sama sekali oleh alam, oleh karena
itu diperlukan suatu lahan penumpukan yang sangat
luas untuk mengimbangi produksi sampah jenis
ini. Sampah anorganik yang paling banyak
dijumpai di masyarakat adalah
sampah plastik. Pada tahun 2008
produksi sampah plastik untuk
kemasan mencapai 925.000 ton dan sekitar 80%nya
berpotensi menjadi sampah yang berbahaya
bagi lingkungan (Kompas, 2009).
Tabel 1.
Potensi sampah kota di beberapa kota di Indonesia
No. Kota Jumlah Penduduk (jiwa)* Potensi Sampah Kota (ton/hari)
1 Jakarta 9.783.308 4.892
2 Surabaya 2.913.973 1.457
3 Bandung 2.603.855 1.301
4 Bekasi 577.958 789
5 Tangerang 1.466.596 733
6 Semarang 1.454.932 727
7 Malang 828.710 414
8 Surakarta 543.079 267
9 Denpasar 485.538 243
10 Yogyakarta 442.824 221
11 Bogor 308.246 154
12 Cirebon 267.986 133
13 Sukabumi 135.338 67
14 Magelang 126.500 63
15 Cianjur 105.931 53
Sumber: NUDS (National Urban Developmen
t Strategy), 2003 dalam Sudradjat, 2006.
Ketersediaan kantung plastik di berbagai tempat
tak dapat dipisahkan dari
perkembangan industri
dan konsumerisme. Dunia industri mengeksploras
i sumber bahan mentah dan menjadikannya
produk pemuas kebutuhan manusia. Ketika sumb
er daya alam tidak lagi mampu memenuhi
kebutuhan yang terus meningkat, industri beralih pada
bahan-bahan sintetis. Mate
rial sistetis seperti
rayon, nilon, akrilik, dan plastik menggantikan kat
un, wol, sultra, dan kayu dengan harga yang jauh
lebih murah. Material ini dapat bertahan selama
nya meski telah digunakan
berulang kali, ringan,
dan dapat diolah kembali menjadi bentuk yang baru dan tetap murah.
Berbagai industri di dunia menggunakan plastik
untuk mengemas produk me
reka. Industri makanan
dan minuman instan misalnya, memilih plastik berlapis
alumunium foil
atau plastik
multilayer
sebagai kemasan karena dianggap aman dan
dapat menjaga produk tetap layak dikonsumsi.
Disamping itu, material pembungkus ini tidak me
mbuat biaya produksi melonjak. Produsen tetap
dapat menjual produk eceran dengan harga yang te
rjangkau. Hal yang sama
juga dilakukan oleh
produsen shampo, permen, susu dan obat-obatan. Plastik kemasan berlapis
alumunium foil
menggantikan kaca, kaleng, dan kertas sebagai material pengemas.
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
23
Pada saat yang sama, produk-produk hasil indust
ri melimpah, kebutuhan manusia menjadi lebih
kompleks, masyarakat terus berbelanja da
n membutuhkan tas untuk membawa barang-barang
mereka. Plastik kemudian menjadi jawaban bagi ke
butuhan ini, murah, kuat,
ringan, tidak berkarat,
bersifat termoplastis, dapat diberi label dengan be
rbagai kreasi, selalu dapat dibuat menarik, dan
bisa menjadi sarana
branding
yang efektif. Anda dapat me
nemukan plastik dengan merk
perbisnisan tertentu di supermarket, t
oko buku, butik, toko alat el
ektronik sampai toko
perlengkapan bayi.
Sebelum kantong plastik muncul, manusia menggunakan
tas dari bahan alami seperti rajutan akar,
daun dan kain. Saat ini meskipun telah membaw
a tas yang cukup besar,
banyak orang tetap
meminta kantung plastik saat berbelanja. Plastik
telah menjadi bagian dari gaya hidup kita.
Sejauh ini keterlibatan masyarakat dalam mengur
angi pemakaian dan menda
ur ulang plastik masih
sangat minim. Biasanya plastik dibakar untuk
memusnahkannya dari pandangan. Padahal, jika
pembakaran plastik tidak sempurna (di bawah 800
0
C) dapat membentuk dioksin, yaitu senyawa
yang dapat memicu kanker, hepatitis, pembengkakan
hati dan gangguan system saraf (Sirait, 2009).
Penulis melihat terdapat potensi untuk memanf
aatkan sampah plastik menjadi produk dan jasa
kreatif dalam rangka mengelola sampah plastik
dengan baik, sehingga
plastik benar-benar
mendukung kehidupan kita. Tidak hanya ketika kita
gunakan namun juga setelah kita gunakan.
Salah satu upaya untuk mengurangi dampak buruk
sampah plastik bagi
lingkungan adalah dengan
melaksanakan prinsip 3R dalam kehidupan se
hari-hari, yaitu pengurangan pemakaian (
reduce
),
pemakaian ulang (
reuse
), dan pendaur ulang (
recycle
).
Sejarah Plastik
Jika ada yang bertanya, material apakah ya
ng membawa manfaat bagi kehidupan sekaligus
membahayakan pada saat yang sama, selain api da
n air, plastik adalah jawabannya. Plastik telah
menjadi sabahat manusia selama hampir satu ab
ad, ia terus diproduksi dan dimanfaatkan sampai
saat ini. Sebagai material yang sulit diurai seca
ra alami, idealnya tidak boleh ada plastik yang
menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketika produk dari plastik telah habis masa
pakainya, ia dapat didaur ul
ang dan dimanfaatkan kembali.
Plastik merupakan material yang baru, secara luas
dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20,
tepatnya pada tahun 1975 diperkenalkan oleh M
ontgomery Ward, Sears, J.C. Penny, Jodan Marsh
dan toko-toko retail besar lainnya (Marpaun
g, 2009). Plastik berkembang secara luar biasa
penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pa
da tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada
tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. S
aat ini hampir tidak ada supermarket, toko
atau warung di Indonesia
yang tidak menyediakan kantung plastik (Anonim, 2009).
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
24
Jenis-Jenis Plastik
Ada berbagai macam jenis platik. Plastik yang
digunakan untuk membuat bot
ol air mineral tentu
berbeda dengan plastik untuk membuat mangkuk, se
dotan, kursi, dan pipa. Untuk mengetahui jenis
plastik yang digunakan sebagai material dasar se
buah produk kita bisa melihat pada symbol yang
dicetak pada plastik. Simbol ini berupa sebuah
angka (dari 1-7) dalam rangkaian tanda panah yang
membentuk segitiga, biasanya dicet
ak dibagian bawah benda plastik.
Setiap simbol mewakili jenis
plastik yang berbeda dan membentuk pengelomp
okkan dalam melakukan proses daur ulang.
Tabel 2.
Simbol-simbol Plastik (Pravitasari, 2009)
Simbol Karakteristik dan Contoh
Polyethylene Terephthalate (PET, PETE)
PET transparan, jernih, dan kuat. Biasanya di
pergunakan sebagai botol minuman (air
mineral, jus, soft drink, minuman olah raga
) tetapi tidak untuk air hangat atau panas.
Serpihan dan pelet PET yang telah dibersihka
n dan didaur ulang dapat digunakan untuk
membuat serat benang karpet,
fiberfill,
dan
geotextile
. Jenis ini biasa disebut dengan
Polyester.
High Density Polyethylene (HDPE)
HDPE dapat digunakan untuk membuat berbagai
macam tipe botol. Botol-botol yang
tidak diberi pigmen bersifat tembus cah
aya, kaku, dan cocok untuk mengemas produk
yang memiliki umur pendek seperti susu. Ka
rena HDPE memiliki ketahan kimiawi yang
bagus, plastik tipe ini dapat
digunakan untuk mengemas deterjen dan bleach. Hasil daur
ulangnya dapat digunakan sebagai kemasan produk non-pangan seperti shampo,
kondisioner, pipa, ember, dll.
Polyvinyl Chloride (PVC)
Memiliki karakter fisik yang stabil dan taha
n terhadap bahan kimia, pengaruh cuaca,
aliran, dan sifat elektrik. Bahan ini pali
ng sulit untuk didaur ulang dan biasa digunakan
untuk pipa dan kontruksi bangunan.
Low Density Polyethylene (LDPE)
Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol
-botol yang lembek (madu, mustard).
Barang-barang dengan kode ini dapat di da
ur ulang dan baik untuk barang-barang yang
memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang de
ngan kode ini bisa dibilang tidak dapat di
hancurkan tetapi tetap baik
untuk tempat makanan.
Polypropylene (PP)
PP memiliki daya tahan yang baik terhadap
bahan kimia, kuat, dan memiliki titik leleh
yang tinggi sehingga cocok untuk produk
yang berhubungan dengan makanan dan
minuman seperti tempat menyimpan makana
n, botol minum, tempat obat dan botol
minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang me
njadi casing baterai, sapu, sikat, dll.
Polystyrene (PS)
PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai,
tempat CD, karton tempat telor, dll. Pe
makaian bahan ini sangat dihindari untuk
mengemas makanan karena bahan
styrine
dapat masuk ke da
lam makanan ketika
makanan tersebut bersentuhan.
Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf
manusia. Bahan ini dibanyak negara bagi
an di Amerika sudah melarang pemakaian
tempat makanan berbahan styr
ofoam termasuk negara cina.
Other
Plastik yang menggunakan kode ini terbuat
dari resin yang tidak termasuk enam
golongan yang lainnya, atau terbuat dari le
bih dari satu jenis resin dan digunakan dalam
kombinasi multi-layer.
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
25
Pengelompokan dan pengkodean seperti ini dikemba
ngkan oleh The Society of the Plastic Industry
(SPI), sebuah organisasi perdagangan di Wa
shington D.C yang mewakili industri plastik di
Amerika. Tujuan dari pengelompokan dan pengkodean ini adalah menyediakan system nasional
yang konsisten untuk memudahkan pengelompokan plas
tik bekas bagi penda
ur ulang plastik.
Meskipun tidak wajib dilakukan,
pengkodean ini telah menjadi
prosedur sta
ndar untuk produk
plastik yang dijual di Amerika dan Kanada.
Di Indonesia sendiri pengkodean ini sudah lazim
digunakan (Marpaung, 2009).
Sampai saat ini kita dapat menemukan 7 jenis plas
tik dengan simbol berbeda. Pada Tabel 2 adalah
simbol-simbol plastik tersebut.
2.
Metodelogi Penulisan
Metode Pengumpulan Data
Penulis dalam mengumpulkan data
dalam daftar pustaka menggunakan metode pengumpulan data
sekunder yaitu data yang diperoleh
dari pihak lain, tidak langsung di
peroleh penulis dari subjeknya.
Data sekunder biasanya berwujud
data laporan yang tersedia.
Dalam hal ini, data sekunder
diperoleh melalui buku, jurnal dan artikel.
Metode Analisis Data
Metode yang penulis gunakan dalam analisis data
adalah metode deskriptif
yaitu menyajikan data
secara sistematis agar mudah untuk dimengerti.
3.
Analisis dan Sintesis
Plastik adalah sumber daya yang masih dapat
dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama dan
dapat digunakan berulang kali. Teknologi daur ulang
plastik sebenarnya telah lama dikenal, namun
perilaku membuang sampah masyarakat mempersul
it kelancaran daur ulang. Masyakarat masih
mencampur sampah organik dan anorgank sehingga
pemilahan sampah memakan waktu yang lama.
Diantara tumpukan sampah yang kita hasilkan,
pemulung harus memilih-milih sampah yang dapat
didaur ulang dan menyetorkannya kepada pengepul.
Seandainya saja kita mau berdisiplin memilah
sampah tentu sampah-sampah kita, terutama sa
mpah plastik, akan mudah didaur ulang.
Sebenarnya konsep dalam pengelolaan sampah sa
ngatlah mudah, seperti yang telah dilakukan oleh
Iswanto di Paguyuban Sukunan Bersemi, Yogyakar
ta. Konsep yang ditawarkan cukup sederhana
yaitu pemilahan sampah menjadi 3 yaitu sampah
organik, anorganik dan sampah plastik. Sampah
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
26
organik diolah secara mandiri
di tiap rumah menjadi kompos
, sebagian sampah plastik
dimanfaatkan menjadi kerajinan, dan sampah anor
ganik lainnya disalurk
an ke pengepul untuk
diolah kembali. Keberhasilan Sukunan menjalankan
sistem sederhana ini s
ecara kontinu terletak
pada kekompakan, niat dan motivasi dari Tim Pengelo
la Sampah dan kerjasama dari seluruh elemen
masyarakat. Tanpa kerjasama dan penerimaan yang
baik, sistem ini tentu tidak dapat berjalan.
Konsep ini dijalankan dengan 4 pr
insip yaitu mandiri (dikelola ma
syarakat sendiri), produktif
(menghasilkan sesuatu yang bernilai), komprehen
sif (seluruh sampah dapat diatasi), dan ramah
lingkungan (pengelolaan sampah tidak
mencemari lingkungan) (Pamungkas, 2006).
Bisnis Kreasi Sampah Plastik
Bisnis daur ulang sampah telah berlangsung sejak
lama dan merupakan bisnis besar yang dijalankan
secara sistematis. Meskipun menguntungkan, tidak semu
a orang tertarik mendalami bisnis ini.
Untuk menjadi pebisnis daur ul
ang plastik, seorang perlu memba
ngun sistem pengumpulan sampah
yang baik, menjalin kerjasama dengan pemulung, memiliki fasilitas pengolahan sampah, serta
mengenal pangsa pasar produk daur ulang pl
astik yang diproduksi
nya. Meskipun tetap
menggunakan plastik sebagai bahan baku utama,
bisnis kreasi sampah plastik yang penulis
tawarkan tidak sekompleks bisnis daur ulang plastik
yang bercorak industrial
dan bisnis ini dapat
dilakukan secara mandiri.
Sebagai produk kreatif, karya krea
si sampah plastik memiliki nilai komersial yang menjanjikan.
Produk ini memiliki daya jual yang dapat menghasilkan keuntungan. Secara umum, bisnis ini
terbagi dalam dua jenis, yaitu
produk dan jasa. Dalam konteks bisn
is kreasi sampah plastik, kedua
jenis bisnis tadi dapat dilakukan. Dari sisi
produk, bisnis ini menghasilkan produk-produk yang
menjanjikan secara finansial. Dari sisi jasa, ide
usaha dan produk yang dihasilkan ini dapat dikemas
menjadi jasa workshop/pelatihan/seminar yang menguntungkan.
Tabel 3
. Matrik sederhana dalam bisnis sampah plastik
Produk Jasa
Setengah Jadi Siap Jual Workshop Pelatihan Seminar
Bahan
pembuat
produk jadi
Tas, dompet,
keranjang,
tempat pensil,
tempat koran,
alas kursi, tas
laptop
Membuat tas,
dompet,
keranjang, tempat
pensil, tempat
Koran, alas kursi,
tas laptop
Bagaimana
membuat
business
plan
bisnis kreasi
sampah plastik,
pengelolaan usaha
Bisnis, pemasaran,
dan inovasi produk
ramah lingkungan.
Peran pemerintah
dalam mendukung
bisnis ramah
lingkungan.
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
27
Workshop bisnis kreasi sampah plastik dapat menj
adi ajang transfer mate
ri yang bisa dikemas
dengan semangat
entrepreneurship
sehingga peserta akan mendapa
t pengetahuan tentang produksi
karya kreatif, tips dan trik bagaimana menjalankan
bisnis sampah plastik.
Pelatihan produksi kreasi
sampah plastik memiliki peluang bagus di kota-kota besar. Area ini potensial karena ketersediaan
bahan baku melimpah dan padat penduduk, sementara
orang memerlukan pekerj
aan/ide bisnis, baik
itu mahasiswa, ibu-ibu PKK, karang ta
runa, komunitas anak muda kreatif.
Bisnis kreasi sampah plastik dapat menjadi sa
lah satu gerakan pember
dayaan komunitas. Ini
merupakan salah satu kekuatan produk yang dapa
t dikomunikasikan pada konsumen. Proses
produksi yang dilakukan melibatkan banyak piha
k, mulai dari pemulung, penjahit, tenaga
administratif, dan lain-lain. Menjalankan bisn
is sampah plastik berarti menambah lapangan
pekerjaan dan membuka kemungkinan peningkatan ke
sejahteraan masyarakat. Ada hal yang positif
jika konsumen mengetahui bagaimana dan oleh si
apa produk dibuat. Contohnya adalah sebagai
berikut: Ibu Kasmi merupakan pengusaha kerajinan
dari sampah plastik “The Happy Trash Bag”
(
Group of The Deaf People
) di Ciputat, Tangerang. Ia melatih dan mempekerjakan sejumlah anak
tunarungu membuat kerajinan sa
mpah plastik dan mempekerjaka
n ibu-ibu miskin di lingkungan
sekitarnya. Pada produk yang d
ijualnya, Ibu Kasmi membubuhkan ke
rtas bertuliskan keterangan
dalam bahasa Inggris bahwa produknya di
buat oleh para tunarungu (Marpaung, 2009).
Selain sebagai informasi produk, keterangan ini
memberikan informasi kepada konsumen bahwa
pembelian yang dilakukannya ternyata mendatangkan kebaikan bagi pekerja yang terlibat dalam
pembuatan produk. Hal ini dapat meningkatkan nilai ju
al produk, tetapi hal ini
tidak menjadi faktor
utama dalam penjualan karena harus tetap meng
utamakan kualitas dari produk yang dihasilkan.
Potensi Sampah Plastik
Sampah plastik dapat dikreasikan menjadi karya
kerajinan bernil
ai jual tinggi tanpa melakukan
peleburan terlebih dahulu. Pengolahan d
ilakukan dengan menggabungkan lembaran-lembaran
plastik menjadi bahan dasar, baik dengan menjah
itnya atau menempelkannya pada material lain.
Bungkus plastik ber
alumunium foil
sebagai bahan baku produksi kerajinan memiliki beberapa
kelebihan antara lain:
1.
Kuat
. Plastik kemasan didesain oleh produsen
makanan/minuman instan sebagai pembungkus
produk yang cukup kuat melindungi produk di dalamnya. Disamping itu, plastik baru dapat
terurai sempurna dalam waktu 80 sampai 300 tahun.
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
28
2.
Anti air
. Plastik kemasan tentu dirancang untuk
melindungi produk di dalmnya dari air dan
udara.
3.
Desain yang bagus
. Setiap produsen ketika melempar
produknya ke pasaran, tentu akan
mengemasnya semenarik mungkin agar produknya
digemari dan dibeli
konsumen. Alasannya,
karena pandangan pertama ketika berbelanja bi
asanya pembeli tertuju ke kemasan yang apik
dan mencolok. Kemasan yang tertata apik dilihat da
ri paduan warna, huruf, dan gambar tentu
dirancang sedemikian rupa oleh
tenaga ahli khusus (Hermono, 2009).
4.
Murah
. Sampah plastik adalah barang buangan dari
produk sekali pakai.
Oleh karena itu
seringkali dianggap tidak punya nilai lagi. Sampah
plastik diperoleh secara
gratis apabila kita
pandaai menyusun strategi pengumpulannya.
5.
Ringan
.
6.
Lentur, muda dibentuk dan dilipat
. Dengan sifat ini kita dapa
t memanfaatkan plastik mirip
dengan kain atau ke
rtas (Marpaung, 2009).
Kelebihan plastik berlapis
alumunium foil
ini membuatnya fleksibe
l untuk dikreasikan. Secara
sederhana bisa dikatakan bahwa lembaran plastik
dapat diposisikan sepe
rti pengganti kain untuk
kerajinan. Lembaran plastik dapat diolah dengan
cara yang tidak jauh berbed
a dengan kain. Anda
dapat menjahitnya, memotong dan menyambungnya kembali, melipat, menjepitnya dengan
aksesoris dari metal, dan megkomb
inasikannya dengan material lain.
Mainkanlah imaji anda dengan lembaran-lembara
n plastik yang dapat menggantikan kain atau
lembaran plastik jadi. Kalau lembaran kain batik
dapat dimanfaatkan menjadi tas laptop, lembaran
plastik pun bisa. Anggaplah bahwa le
mbaran plastik sama sekali sepe
rti kain tebal, hanya sedikit
kaku dan berisik. Eksplorasikanlah segala kemungki
nan yang muncul dan kaitkan dengan keunikan
yang ditimbulkan jika plastik kemasan
beraneka warna menjadi bahan bakunya.
Gambar 1, 2 dan 3 adalah beberapa contoh produk ya
ng telah beredar di pasara
n, dan penjelasan ciri
khas masing-masing produk tersebut.
Bahan baku produk pada Gambar 1
didapat dengan cara mengumpulka
n dari berbagai
kantin yang
ada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Spesialisasi produknya adalah kemasan plastik
ber
alumunium foil
. Konsumennya telah tersebar
di berbagai propinsi di
Indonesia. Harga penjualan
masing sangat terjangkau, mu
lai dari puluhan ribu hi
ngga ratusan ribu rupiah.
Tas tangan, dompet dan kantung
produksi Ecoist dibuat dari pe
mbungkus permen, label minuman
bersoda, dan bungkus makanan lainnya yang dibuang ol
eh pabrik karena kesalahan cetak atau
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
29
kesalahan lainnya. Selain plastik pembungkus, Ecoi
st juga menggunakan maja
lah bekas dan plastik
PVC sebagai bahan dasar. Produk
pada Gambar 2 dibuat secara
handmade
di Mexico dan Peru.
Nilai produk di negeri asalnya
bisa mencapai ratusan dollar.
Gambar 1.
Produk kerajinan sampah plasti
k dari Project B Yogyakarta
(sumber: http://www.facebook.com/photo.php?pid=100144804&op=1&o=global
&view=global&subj=1205208724&id=1205208724)
Gambar 2.
Produk kerajinan sampah
plastik dari Ecoist
(sumber : http://www.ecoist.com)
Gambar 3.
Produk kerajinan sampah dari Xs Project
(sumber : www.xsprojectgroup.com)
Sampah plastik yang digunakan dalam Xs Proj
ect (Gambar 3) dikumpulkan oleh komunitas
pemulung dan pemungut sampah di Jakarta. Meterial
ini kemudian diolah me
njadi berbagai produk
oleh tenaga
outsource
dan pengrajin yang dipeke
rjakan oleh Xs Project.
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
30
Plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan kita
. Setiap hari kita banyak menggunakan produk-
produk yang mengandung plastik. Banyaknya plastik ya
ng kita gunakan menghasilkan sampah yang
melimpah. Pernahkah terfikir oleh kita, berapa
banyak plastik yang akan
digunakan setiap hari,
setiap minggu, dan setiap tahunnya? Jika anda
mau meluangkan waktu menghitungnya, dalam 5
tahun saja anda telah mengkonsumsi setidaknya
3.650 lembar kantung plastik. Bayangkan, jika 200
juta penduduk Indonesia melakukannya setiap hari, be
rapa ton kantung plasti
k yang beredar dalam
setahun? Diperkirakan warga Ja
karta saja dapat membuang ka
ntong plastik yang bisa menutupi
lebih dari 200 lapangan sepak bola (Marpaung
, 2009), sumber lain menyebutkan bahwa 1.500
lembar sampah plastik dihasilkan se
tiap detik di Jakarta (Hermono, 2009).
Kegiatan di atas adalah salah satu c
ontoh dari proses da
ur ulang plastik (
recycle
) yang bertujuan
untuk mengubah penggunaan barang plastik supaya
tetap bermanfaat, misalnya dengan membuat
tas atau produk berguna dan bernilai jual. Selain
itu dapat juga dilakuk
an kegiatan pengurangan
pemakaian (
reduce
) yang bertujuan meminimalkan jumlah
plastik yang akan berakhir menjadi
sampah setiap hari, misalnya dengan mengur
angi barang-barang yang menggunakan plastik.
Langkah lain yang dapat juga dilakukan untuk me
minimalkan penggunaan plastik baru adalah
pemakaian ulang (
reuse
) bertujuan untuk memaksimalkan pe
nggunaan barang plastik yang sudah
ada, misalnya dengan menggunakan kantong plasti
k yang sudah ada sebelumnya yang masih
berfungsi dengan baik.
4.
Kesimpulan
Setelah melalui proses analisis dan sistesis
masalah, maka kesimpulan
yang didapatkan dari
penelitian studi literatur ini adalah sampah
plastik memiliki bahaya yang cukup besar bagi
keberlangsungan hidup manusia, oleh karena itu di
perlukan suatu usaha yang serius oleh berbagai
pihak untuk mengelolanya. Karena disamping ba
haya yang ditumbulkannya, plastik sekaligus
memiliki potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai produk dan jasa kreatif.
Kegiatan kreasi sampah plastik in
i juga dapat menjadi salah satu
gerakan pemberdayaan komunitas
dan memperluas lapangan pekerjaan dan me
mbuka kemungkinan peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Daftar Pustaka
Anonim. (2009).
Plastik
. didownload dari http://id.
wikipedia.org/wiki/Plastik
Anonim. (2009).
Sampah Plastik Jadi Limbah
. didownload dari http
://cetak.kompas.com/
read/xml/2008/08/06/00444748/80.persen.sampah.plastik.jadi.limbah



Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
22
dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos, briket
serta biogas, tetapi sampah anorganik masih
sangat minim pengelolaannya. Sampah anorganik sangat sulit didegradasi bahkan tidak dapat
didegradasi sama sekali oleh alam, oleh karena
itu diperlukan suatu lahan penumpukan yang sangat
luas untuk mengimbangi produksi sampah jenis
ini. Sampah anorganik yang paling banyak
dijumpai di masyarakat adalah
sampah plastik. Pada tahun 2008
produksi sampah plastik untuk
kemasan mencapai 925.000 ton dan sekitar 80%nya
berpotensi menjadi sampah yang berbahaya
bagi lingkungan (Kompas, 2009).
Tabel 1.
Potensi sampah kota di beberapa kota di Indonesia
No. Kota Jumlah Penduduk (jiwa)* Potensi Sampah Kota (ton/hari)
1 Jakarta 9.783.308 4.892
2 Surabaya 2.913.973 1.457
3 Bandung 2.603.855 1.301
4 Bekasi 577.958 789
5 Tangerang 1.466.596 733
6 Semarang 1.454.932 727
7 Malang 828.710 414
8 Surakarta 543.079 267
9 Denpasar 485.538 243
10 Yogyakarta 442.824 221
11 Bogor 308.246 154
12 Cirebon 267.986 133
13 Sukabumi 135.338 67
14 Magelang 126.500 63
15 Cianjur 105.931 53
Sumber: NUDS (National Urban Developmen
t Strategy), 2003 dalam Sudradjat, 2006.
Ketersediaan kantung plastik di berbagai tempat
tak dapat dipisahkan dari
perkembangan industri
dan konsumerisme. Dunia industri mengeksploras
i sumber bahan mentah dan menjadikannya
produk pemuas kebutuhan manusia. Ketika sumb
er daya alam tidak lagi mampu memenuhi
kebutuhan yang terus meningkat, industri beralih pada
bahan-bahan sintetis. Mate
rial sistetis seperti
rayon, nilon, akrilik, dan plastik menggantikan kat
un, wol, sultra, dan kayu dengan harga yang jauh
lebih murah. Material ini dapat bertahan selama
nya meski telah digunakan
berulang kali, ringan,
dan dapat diolah kembali menjadi bentuk yang baru dan tetap murah.
Berbagai industri di dunia menggunakan plastik
untuk mengemas produk me
reka. Industri makanan
dan minuman instan misalnya, memilih plastik berlapis
alumunium foil
atau plastik
multilayer
sebagai kemasan karena dianggap aman dan
dapat menjaga produk tetap layak dikonsumsi.
Disamping itu, material pembungkus ini tidak me
mbuat biaya produksi melonjak. Produsen tetap
dapat menjual produk eceran dengan harga yang te
rjangkau. Hal yang sama
juga dilakukan oleh
produsen shampo, permen, susu dan obat-obatan. Plastik kemasan berlapis
alumunium foil
menggantikan kaca, kaleng, dan kertas sebagai material pengemas.

https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3579/3169
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
23
Pada saat yang sama, produk-produk hasil indust
ri melimpah, kebutuhan manusia menjadi lebih
kompleks, masyarakat terus berbelanja da
n membutuhkan tas untuk membawa barang-barang
mereka. Plastik kemudian menjadi jawaban bagi ke
butuhan ini, murah, kuat,
ringan, tidak berkarat,
bersifat termoplastis, dapat diberi label dengan be
rbagai kreasi, selalu dapat dibuat menarik, dan
bisa menjadi sarana
branding
yang efektif. Anda dapat me
nemukan plastik dengan merk
perbisnisan tertentu di supermarket, t
oko buku, butik, toko alat el
ektronik sampai toko
perlengkapan bayi.
Sebelum kantong plastik muncul, manusia menggunakan
tas dari bahan alami seperti rajutan akar,
daun dan kain. Saat ini meskipun telah membaw
a tas yang cukup besar,
banyak orang tetap
meminta kantung plastik saat berbelanja. Plastik
telah menjadi bagian dari gaya hidup kita.
Sejauh ini keterlibatan masyarakat dalam mengur
angi pemakaian dan menda
ur ulang plastik masih
sangat minim. Biasanya plastik dibakar untuk
memusnahkannya dari pandangan. Padahal, jika
pembakaran plastik tidak sempurna (di bawah 800
0
C) dapat membentuk dioksin, yaitu senyawa
yang dapat memicu kanker, hepatitis, pembengkakan
hati dan gangguan system saraf (Sirait, 2009).
Penulis melihat terdapat potensi untuk memanf
aatkan sampah plastik menjadi produk dan jasa
kreatif dalam rangka mengelola sampah plastik
dengan baik, sehingga
plastik benar-benar
mendukung kehidupan kita. Tidak hanya ketika kita
gunakan namun juga setelah kita gunakan.
Salah satu upaya untuk mengurangi dampak buruk
sampah plastik bagi
lingkungan adalah dengan
melaksanakan prinsip 3R dalam kehidupan se
hari-hari, yaitu pengurangan pemakaian (
reduce
),
pemakaian ulang (
reuse
), dan pendaur ulang (
recycle
).
Sejarah Plastik
Jika ada yang bertanya, material apakah ya
ng membawa manfaat bagi kehidupan sekaligus
membahayakan pada saat yang sama, selain api da
n air, plastik adalah jawabannya. Plastik telah
menjadi sabahat manusia selama hampir satu ab
ad, ia terus diproduksi dan dimanfaatkan sampai
saat ini. Sebagai material yang sulit diurai seca
ra alami, idealnya tidak boleh ada plastik yang
menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketika produk dari plastik telah habis masa
pakainya, ia dapat didaur ul
ang dan dimanfaatkan kembali.
Plastik merupakan material yang baru, secara luas
dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20,
tepatnya pada tahun 1975 diperkenalkan oleh M
ontgomery Ward, Sears, J.C. Penny, Jodan Marsh
dan toko-toko retail besar lainnya (Marpaun
g, 2009). Plastik berkembang secara luar biasa
penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pa
da tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada
tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. S
aat ini hampir tidak ada supermarket, toko
atau warung di Indonesia
yang tidak menyediakan kantung plastik (Anonim, 2009).
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
24
Jenis-Jenis Plastik
Ada berbagai macam jenis platik. Plastik yang
digunakan untuk membuat bot
ol air mineral tentu
berbeda dengan plastik untuk membuat mangkuk, se
dotan, kursi, dan pipa. Untuk mengetahui jenis
plastik yang digunakan sebagai material dasar se
buah produk kita bisa melihat pada symbol yang
dicetak pada plastik. Simbol ini berupa sebuah
angka (dari 1-7) dalam rangkaian tanda panah yang
membentuk segitiga, biasanya dicet
ak dibagian bawah benda plastik.
Setiap simbol mewakili jenis
plastik yang berbeda dan membentuk pengelomp
okkan dalam melakukan proses daur ulang.
Tabel 2.
Simbol-simbol Plastik (Pravitasari, 2009)
Simbol Karakteristik dan Contoh
Polyethylene Terephthalate (PET, PETE)
PET transparan, jernih, dan kuat. Biasanya di
pergunakan sebagai botol minuman (air
mineral, jus, soft drink, minuman olah raga
) tetapi tidak untuk air hangat atau panas.
Serpihan dan pelet PET yang telah dibersihka
n dan didaur ulang dapat digunakan untuk
membuat serat benang karpet,
fiberfill,
dan
geotextile
. Jenis ini biasa disebut dengan
Polyester.
High Density Polyethylene (HDPE)
HDPE dapat digunakan untuk membuat berbagai
macam tipe botol. Botol-botol yang
tidak diberi pigmen bersifat tembus cah
aya, kaku, dan cocok untuk mengemas produk
yang memiliki umur pendek seperti susu. Ka
rena HDPE memiliki ketahan kimiawi yang
bagus, plastik tipe ini dapat
digunakan untuk mengemas deterjen dan bleach. Hasil daur
ulangnya dapat digunakan sebagai kemasan produk non-pangan seperti shampo,
kondisioner, pipa, ember, dll.
Polyvinyl Chloride (PVC)
Memiliki karakter fisik yang stabil dan taha
n terhadap bahan kimia, pengaruh cuaca,
aliran, dan sifat elektrik. Bahan ini pali
ng sulit untuk didaur ulang dan biasa digunakan
untuk pipa dan kontruksi bangunan.
Low Density Polyethylene (LDPE)
Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol
-botol yang lembek (madu, mustard).
Barang-barang dengan kode ini dapat di da
ur ulang dan baik untuk barang-barang yang
memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang de
ngan kode ini bisa dibilang tidak dapat di
hancurkan tetapi tetap baik
untuk tempat makanan.
Polypropylene (PP)
PP memiliki daya tahan yang baik terhadap
bahan kimia, kuat, dan memiliki titik leleh
yang tinggi sehingga cocok untuk produk
yang berhubungan dengan makanan dan
minuman seperti tempat menyimpan makana
n, botol minum, tempat obat dan botol
minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang me
njadi casing baterai, sapu, sikat, dll.
Polystyrene (PS)
PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai,
tempat CD, karton tempat telor, dll. Pe
makaian bahan ini sangat dihindari untuk
mengemas makanan karena bahan
styrine
dapat masuk ke da
lam makanan ketika
makanan tersebut bersentuhan.
Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf
manusia. Bahan ini dibanyak negara bagi
an di Amerika sudah melarang pemakaian
tempat makanan berbahan styr
ofoam termasuk negara cina.
Other
Plastik yang menggunakan kode ini terbuat
dari resin yang tidak termasuk enam
golongan yang lainnya, atau terbuat dari le
bih dari satu jenis resin dan digunakan dalam
kombinasi multi-layer.
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
25
Pengelompokan dan pengkodean seperti ini dikemba
ngkan oleh The Society of the Plastic Industry
(SPI), sebuah organisasi perdagangan di Wa
shington D.C yang mewakili industri plastik di
Amerika. Tujuan dari pengelompokan dan pengkodean ini adalah menyediakan system nasional
yang konsisten untuk memudahkan pengelompokan plas
tik bekas bagi penda
ur ulang plastik.
Meskipun tidak wajib dilakukan,
pengkodean ini telah menjadi
prosedur sta
ndar untuk produk
plastik yang dijual di Amerika dan Kanada.
Di Indonesia sendiri pengkodean ini sudah lazim
digunakan (Marpaung, 2009).
Sampai saat ini kita dapat menemukan 7 jenis plas
tik dengan simbol berbeda. Pada Tabel 2 adalah
simbol-simbol plastik tersebut.
2.
Metodelogi Penulisan
Metode Pengumpulan Data
Penulis dalam mengumpulkan data
dalam daftar pustaka menggunakan metode pengumpulan data
sekunder yaitu data yang diperoleh
dari pihak lain, tidak langsung di
peroleh penulis dari subjeknya.
Data sekunder biasanya berwujud
data laporan yang tersedia.
Dalam hal ini, data sekunder
diperoleh melalui buku, jurnal dan artikel.
Metode Analisis Data
Metode yang penulis gunakan dalam analisis data
adalah metode deskriptif
yaitu menyajikan data
secara sistematis agar mudah untuk dimengerti.
3.
Analisis dan Sintesis
Plastik adalah sumber daya yang masih dapat
dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama dan
dapat digunakan berulang kali. Teknologi daur ulang
plastik sebenarnya telah lama dikenal, namun
perilaku membuang sampah masyarakat mempersul
it kelancaran daur ulang. Masyakarat masih
mencampur sampah organik dan anorgank sehingga
pemilahan sampah memakan waktu yang lama.
Diantara tumpukan sampah yang kita hasilkan,
pemulung harus memilih-milih sampah yang dapat
didaur ulang dan menyetorkannya kepada pengepul.
Seandainya saja kita mau berdisiplin memilah
sampah tentu sampah-sampah kita, terutama sa
mpah plastik, akan mudah didaur ulang.
Sebenarnya konsep dalam pengelolaan sampah sa
ngatlah mudah, seperti yang telah dilakukan oleh
Iswanto di Paguyuban Sukunan Bersemi, Yogyakar
ta. Konsep yang ditawarkan cukup sederhana
yaitu pemilahan sampah menjadi 3 yaitu sampah
organik, anorganik dan sampah plastik. Sampah
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
26
organik diolah secara mandiri
di tiap rumah menjadi kompos
, sebagian sampah plastik
dimanfaatkan menjadi kerajinan, dan sampah anor
ganik lainnya disalurk
an ke pengepul untuk
diolah kembali. Keberhasilan Sukunan menjalankan
sistem sederhana ini s
ecara kontinu terletak
pada kekompakan, niat dan motivasi dari Tim Pengelo
la Sampah dan kerjasama dari seluruh elemen
masyarakat. Tanpa kerjasama dan penerimaan yang
baik, sistem ini tentu tidak dapat berjalan.
Konsep ini dijalankan dengan 4 pr
insip yaitu mandiri (dikelola ma
syarakat sendiri), produktif
(menghasilkan sesuatu yang bernilai), komprehen
sif (seluruh sampah dapat diatasi), dan ramah
lingkungan (pengelolaan sampah tidak
mencemari lingkungan) (Pamungkas, 2006).
Bisnis Kreasi Sampah Plastik
Bisnis daur ulang sampah telah berlangsung sejak
lama dan merupakan bisnis besar yang dijalankan
secara sistematis. Meskipun menguntungkan, tidak semu
a orang tertarik mendalami bisnis ini.
Untuk menjadi pebisnis daur ul
ang plastik, seorang perlu memba
ngun sistem pengumpulan sampah
yang baik, menjalin kerjasama dengan pemulung, memiliki fasilitas pengolahan sampah, serta
mengenal pangsa pasar produk daur ulang pl
astik yang diproduksi
nya. Meskipun tetap
menggunakan plastik sebagai bahan baku utama,
bisnis kreasi sampah plastik yang penulis
tawarkan tidak sekompleks bisnis daur ulang plastik
yang bercorak industrial
dan bisnis ini dapat
dilakukan secara mandiri.
Sebagai produk kreatif, karya krea
si sampah plastik memiliki nilai komersial yang menjanjikan.
Produk ini memiliki daya jual yang dapat menghasilkan keuntungan. Secara umum, bisnis ini
terbagi dalam dua jenis, yaitu
produk dan jasa. Dalam konteks bisn
is kreasi sampah plastik, kedua
jenis bisnis tadi dapat dilakukan. Dari sisi
produk, bisnis ini menghasilkan produk-produk yang
menjanjikan secara finansial. Dari sisi jasa, ide
usaha dan produk yang dihasilkan ini dapat dikemas
menjadi jasa workshop/pelatihan/seminar yang menguntungkan.
Tabel 3
. Matrik sederhana dalam bisnis sampah plastik
Produk Jasa
Setengah Jadi Siap Jual Workshop Pelatihan Seminar
Bahan
pembuat
produk jadi
Tas, dompet,
keranjang,
tempat pensil,
tempat koran,
alas kursi, tas
laptop
Membuat tas,
dompet,
keranjang, tempat
pensil, tempat
Koran, alas kursi,
tas laptop
Bagaimana
membuat
business
plan
bisnis kreasi
sampah plastik,
pengelolaan usaha
Bisnis, pemasaran,
dan inovasi produk
ramah lingkungan.
Peran pemerintah
dalam mendukung
bisnis ramah
lingkungan.
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
27
Workshop bisnis kreasi sampah plastik dapat menj
adi ajang transfer mate
ri yang bisa dikemas
dengan semangat
entrepreneurship
sehingga peserta akan mendapa
t pengetahuan tentang produksi
karya kreatif, tips dan trik bagaimana menjalankan
bisnis sampah plastik.
Pelatihan produksi kreasi
sampah plastik memiliki peluang bagus di kota-kota besar. Area ini potensial karena ketersediaan
bahan baku melimpah dan padat penduduk, sementara
orang memerlukan pekerj
aan/ide bisnis, baik
itu mahasiswa, ibu-ibu PKK, karang ta
runa, komunitas anak muda kreatif.
Bisnis kreasi sampah plastik dapat menjadi sa
lah satu gerakan pember
dayaan komunitas. Ini
merupakan salah satu kekuatan produk yang dapa
t dikomunikasikan pada konsumen. Proses
produksi yang dilakukan melibatkan banyak piha
k, mulai dari pemulung, penjahit, tenaga
administratif, dan lain-lain. Menjalankan bisn
is sampah plastik berarti menambah lapangan
pekerjaan dan membuka kemungkinan peningkatan ke
sejahteraan masyarakat. Ada hal yang positif
jika konsumen mengetahui bagaimana dan oleh si
apa produk dibuat. Contohnya adalah sebagai
berikut: Ibu Kasmi merupakan pengusaha kerajinan
dari sampah plastik “The Happy Trash Bag”
(
Group of The Deaf People
) di Ciputat, Tangerang. Ia melatih dan mempekerjakan sejumlah anak
tunarungu membuat kerajinan sa
mpah plastik dan mempekerjaka
n ibu-ibu miskin di lingkungan
sekitarnya. Pada produk yang d
ijualnya, Ibu Kasmi membubuhkan ke
rtas bertuliskan keterangan
dalam bahasa Inggris bahwa produknya di
buat oleh para tunarungu (Marpaung, 2009).
Selain sebagai informasi produk, keterangan ini
memberikan informasi kepada konsumen bahwa
pembelian yang dilakukannya ternyata mendatangkan kebaikan bagi pekerja yang terlibat dalam
pembuatan produk. Hal ini dapat meningkatkan nilai ju
al produk, tetapi hal ini
tidak menjadi faktor
utama dalam penjualan karena harus tetap meng
utamakan kualitas dari produk yang dihasilkan.
Potensi Sampah Plastik
Sampah plastik dapat dikreasikan menjadi karya
kerajinan bernil
ai jual tinggi tanpa melakukan
peleburan terlebih dahulu. Pengolahan d
ilakukan dengan menggabungkan lembaran-lembaran
plastik menjadi bahan dasar, baik dengan menjah
itnya atau menempelkannya pada material lain.
Bungkus plastik ber
alumunium foil
sebagai bahan baku produksi kerajinan memiliki beberapa
kelebihan antara lain:
1.
Kuat
. Plastik kemasan didesain oleh produsen
makanan/minuman instan sebagai pembungkus
produk yang cukup kuat melindungi produk di dalamnya. Disamping itu, plastik baru dapat
terurai sempurna dalam waktu 80 sampai 300 tahun.
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
28
2.
Anti air
. Plastik kemasan tentu dirancang untuk
melindungi produk di dalmnya dari air dan
udara.
3.
Desain yang bagus
. Setiap produsen ketika melempar
produknya ke pasaran, tentu akan
mengemasnya semenarik mungkin agar produknya
digemari dan dibeli
konsumen. Alasannya,
karena pandangan pertama ketika berbelanja bi
asanya pembeli tertuju ke kemasan yang apik
dan mencolok. Kemasan yang tertata apik dilihat da
ri paduan warna, huruf, dan gambar tentu
dirancang sedemikian rupa oleh
tenaga ahli khusus (Hermono, 2009).
4.
Murah
. Sampah plastik adalah barang buangan dari
produk sekali pakai.
Oleh karena itu
seringkali dianggap tidak punya nilai lagi. Sampah
plastik diperoleh secara
gratis apabila kita
pandaai menyusun strategi pengumpulannya.
5.
Ringan
.
6.
Lentur, muda dibentuk dan dilipat
. Dengan sifat ini kita dapa
t memanfaatkan plastik mirip
dengan kain atau ke
rtas (Marpaung, 2009).
Kelebihan plastik berlapis
alumunium foil
ini membuatnya fleksibe
l untuk dikreasikan. Secara
sederhana bisa dikatakan bahwa lembaran plastik
dapat diposisikan sepe
rti pengganti kain untuk
kerajinan. Lembaran plastik dapat diolah dengan
cara yang tidak jauh berbed
a dengan kain. Anda
dapat menjahitnya, memotong dan menyambungnya kembali, melipat, menjepitnya dengan
aksesoris dari metal, dan megkomb
inasikannya dengan material lain.
Mainkanlah imaji anda dengan lembaran-lembara
n plastik yang dapat menggantikan kain atau
lembaran plastik jadi. Kalau lembaran kain batik
dapat dimanfaatkan menjadi tas laptop, lembaran
plastik pun bisa. Anggaplah bahwa le
mbaran plastik sama sekali sepe
rti kain tebal, hanya sedikit
kaku dan berisik. Eksplorasikanlah segala kemungki
nan yang muncul dan kaitkan dengan keunikan
yang ditimbulkan jika plastik kemasan
beraneka warna menjadi bahan bakunya.
Gambar 1, 2 dan 3 adalah beberapa contoh produk ya
ng telah beredar di pasara
n, dan penjelasan ciri
khas masing-masing produk tersebut.
Bahan baku produk pada Gambar 1
didapat dengan cara mengumpulka
n dari berbagai
kantin yang
ada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Spesialisasi produknya adalah kemasan plastik
ber
alumunium foil
. Konsumennya telah tersebar
di berbagai propinsi di
Indonesia. Harga penjualan
masing sangat terjangkau, mu
lai dari puluhan ribu hi
ngga ratusan ribu rupiah.
Tas tangan, dompet dan kantung
produksi Ecoist dibuat dari pe
mbungkus permen, label minuman
bersoda, dan bungkus makanan lainnya yang dibuang ol
eh pabrik karena kesalahan cetak atau
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
29
kesalahan lainnya. Selain plastik pembungkus, Ecoi
st juga menggunakan maja
lah bekas dan plastik
PVC sebagai bahan dasar. Produk
pada Gambar 2 dibuat secara
handmade
di Mexico dan Peru.
Nilai produk di negeri asalnya
bisa mencapai ratusan dollar.
Gambar 1.
Produk kerajinan sampah plasti
k dari Project B Yogyakarta
(sumber: http://www.facebook.com/photo.php?pid=100144804&op=1&o=global
&view=global&subj=1205208724&id=1205208724)
Gambar 2.
Produk kerajinan sampah
plastik dari Ecoist
(sumber : http://www.ecoist.com)
Gambar 3.
Produk kerajinan sampah dari Xs Project
(sumber : www.xsprojectgroup.com)
Sampah plastik yang digunakan dalam Xs Proj
ect (Gambar 3) dikumpulkan oleh komunitas
pemulung dan pemungut sampah di Jakarta. Meterial
ini kemudian diolah me
njadi berbagai produk
oleh tenaga
outsource
dan pengrajin yang dipeke
rjakan oleh Xs Project.
Hijrah
Purnama
Putra
dan
Yebi
Yuriandala
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
30
Plastik sudah menjadi bagian dari kehidupan kita
. Setiap hari kita banyak menggunakan produk-
produk yang mengandung plastik. Banyaknya plastik ya
ng kita gunakan menghasilkan sampah yang
melimpah. Pernahkah terfikir oleh kita, berapa
banyak plastik yang akan
digunakan setiap hari,
setiap minggu, dan setiap tahunnya? Jika anda
mau meluangkan waktu menghitungnya, dalam 5
tahun saja anda telah mengkonsumsi setidaknya
3.650 lembar kantung plastik. Bayangkan, jika 200
juta penduduk Indonesia melakukannya setiap hari, be
rapa ton kantung plasti
k yang beredar dalam
setahun? Diperkirakan warga Ja
karta saja dapat membuang ka
ntong plastik yang bisa menutupi
lebih dari 200 lapangan sepak bola (Marpaung
, 2009), sumber lain menyebutkan bahwa 1.500
lembar sampah plastik dihasilkan se
tiap detik di Jakarta (Hermono, 2009).
Kegiatan di atas adalah salah satu c
ontoh dari proses da
ur ulang plastik (
recycle
) yang bertujuan
untuk mengubah penggunaan barang plastik supaya
tetap bermanfaat, misalnya dengan membuat
tas atau produk berguna dan bernilai jual. Selain
itu dapat juga dilakuk
an kegiatan pengurangan
pemakaian (
reduce
) yang bertujuan meminimalkan jumlah
plastik yang akan berakhir menjadi
sampah setiap hari, misalnya dengan mengur
angi barang-barang yang menggunakan plastik.
Langkah lain yang dapat juga dilakukan untuk me
minimalkan penggunaan plastik baru adalah
pemakaian ulang (
reuse
) bertujuan untuk memaksimalkan pe
nggunaan barang plastik yang sudah
ada, misalnya dengan menggunakan kantong plasti
k yang sudah ada sebelumnya yang masih
berfungsi dengan baik.
4.
Kesimpulan
Setelah melalui proses analisis dan sistesis
masalah, maka kesimpulan
yang didapatkan dari
penelitian studi literatur ini adalah sampah
plastik memiliki bahaya yang cukup besar bagi
keberlangsungan hidup manusia, oleh karena itu di
perlukan suatu usaha yang serius oleh berbagai
pihak untuk mengelolanya. Karena disamping ba
haya yang ditumbulkannya, plastik sekaligus
memiliki potensi yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai produk dan jasa kreatif.
Kegiatan kreasi sampah plastik in
i juga dapat menjadi salah satu
gerakan pemberdayaan komunitas
dan memperluas lapangan pekerjaan dan me
mbuka kemungkinan peningkatan kesejahteraan
masyarakat.
Daftar Pustaka
Anonim. (2009).
Plastik
. didownload dari http://id.
wikipedia.org/wiki/Plastik
Anonim. (2009).
Sampah Plastik Jadi Limbah
. didownload dari http
://cetak.kompas.com/
read/xml/2008/08/06/00444748/80.persen.sampah.plastik.jadi.limbah
Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
31
Ecoist. (2009).
Produk Sampah Kemasan
. didownload dari http://www.ecoist.com
Hermono, Ulli. (2009).
Inspirasi dari Limbah Plastik
. Kawan Pustaka. Jakarta.
Marpaung, G.S., dan Widiaji. (2009).
Raup Rupiah dari Sampah Plastik
. Pustaka Bina Swadaya.
Jakarta.
Pamungkas, T.A. (2006). Iswanto: Bukan Mem
buang tapi Mengelola, dalam Sampah Dilema
Manusia Modern dan Krisis Ekologi.
Balairung Jurnal Mahasiswa Universitas Gadjah
Mada
. Edisi 39. Yogyakarta.
Pravitasari, Anita. (2009).
Simbol Daur Ulang pada Botol dan Kemasan Plastik
, didownload dari
http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-dau
r-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/
Project B. (2009).
Produk Sampah Kemasan
, didownload dari http://www.facebook.com/
photo.php?pid=100144804&op=1&o=global&vi
ew=global&subj=1205208724&id=12052
08724
Sirait, Mita. (2009).
Sulap Sampah Plastik Lunak
jadi Jutaan Rupiah
. B-Frist. Yogyakarta.
Sudradjat, H.R. (2006).
Mengelola Sampah Kota
. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tim Penulis PS. (2008).
Penanganan dan Pengolahan Sampah
. Penebar Swadaya. Jakarta.
Xs Project. (2009).
Produk Sampah Kemasan
. didownload dari www.xsprojectgroup.comhttps://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3579/3169Volume
2
Nomor
1
Januari
2010
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Lingkungan
31
Ecoist. (2009).
Produk Sampah Kemasan
. didownload dari http://www.ecoist.com
Hermono, Ulli. (2009).
Inspirasi dari Limbah Plastik
. Kawan Pustaka. Jakarta.
Marpaung, G.S., dan Widiaji. (2009).
Raup Rupiah dari Sampah Plastik
. Pustaka Bina Swadaya.
Jakarta.
Pamungkas, T.A. (2006). Iswanto: Bukan Mem
buang tapi Mengelola, dalam Sampah Dilema
Manusia Modern dan Krisis Ekologi.
Balairung Jurnal Mahasiswa Universitas Gadjah
Mada
. Edisi 39. Yogyakarta.
Pravitasari, Anita. (2009).
Simbol Daur Ulang pada Botol dan Kemasan Plastik
, didownload dari
http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-dau
r-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/
Project B. (2009).
Produk Sampah Kemasan
, didownload dari http://www.facebook.com/
photo.php?pid=100144804&op=1&o=global&vi
ew=global&subj=1205208724&id=12052
08724
Sirait, Mita. (2009).
Sulap Sampah Plastik Lunak
jadi Jutaan Rupiah
. B-Frist. Yogyakarta.
Sudradjat, H.R. (2006).
Mengelola Sampah Kota
. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tim Penulis PS. (2008).
Penanganan dan Pengolahan Sampah
. Penebar Swadaya. Jakarta.
Xs Project. (2009).
Produk Sampah Kemasan
. didownload dari www.xsprojectgroup.com
Judul Informasi : Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif
Penulis : -
Kategori : Blog
Tahun Penerbit : -
Sumber Referensi : -
Fokus Isu : Pendidikan
Materi terkait
Blog
Andini Trisnaning Tias | 29 Nov 2021
Ubah Sampah Menjadi Sedekah
Video
Dea Karina | 17 Nov 2021
Mengenal Eco Enzyme, Manfaat dan Ca ...
Jurnal
Dea Karina | 04 Nov 2021
Bumi di Bawah Tekanan: COVID-19 dan ...
Laporan
Anggoro Riyadi Putra | 01 Nov 2021
Laporan Kegiatan Jambore Indonesia ...
Video
Dea Karina | 28 Oct 2021
Pengelolaan E Waste di DKI Jakarta
Video
Melynda Dwi Puspita | 24 Oct 2021
Seberapa Banyak Sampah Plastik di D ...
Video
Dea Karina | 21 Oct 2021
Seberapa banyak Makanan yang terbua ...
;